Bintang muda sensasional Spanyol, Pedro Acosta, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki teman dekat di dalam paddock MotoGP. Alih-alih merasa terisolasi, pembalap berjuluk El Tiburon de Mazarron itu justru merasa sangat nyaman dengan situasi tersebut. Karena membuatnya bebas menyerang dan menyalip rival mana pun di lintasan tanpa keraguan emosional.
Pernyataan tegas ini mencuat jelang kepindahan besarnya musim depan. Acosta akan meninggalkan kubu KTM untuk membentuk susunan pembalap impian mendampingi juara dunia bertahan Marc Marquez di Ducati Lenovo.
BACA JUGA: Bersabar Kembangkan Proyek Mesin V4 Yamaha MotoGP: Toprak Yakin Pabrikan Iwata Segera Bangkit
Sulitnya Hubungan Jujur di Antara Pemburu Mimpi yang Sama
Kendati mengakui bahwa mayoritas pembalap di grid saat ini sangat ramah dan mudah diajak berkomunikasi, Acosta menilai persahabatan sejati sulit terjalin ketika semua orang memperebutkan satu trofi tertinggi yang sama.
“Untungnya di MotoGP, hampir dengan semua pembalap sangat mudah untuk mengobrol dan menjalin relasi,” ungkap Pedro Acosta kepada Motorsport.com. “Tetapi pada akhirnya, semua orang berada di sini untuk mengejar mimpi yang sama. Menurut saya, sangat sulit membangun hubungan yang tulus dengan seseorang yang menginginkan hal persis seperti apa yang Anda inginkan. Jujur saja, saya lebih memilih mengambil langkah mundur dan tidak menjalin hubungan apa pun.”
Pembalap berusia 22 tahun tersebut menambahkan bahwa prinsip ini telah ia pegang sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di kejuaraan dunia balap motor.
BACA JUGA: Profil David Alonso: Rekor Gila Penghancur Rekor Rossi hingga Dikontrak Honda HRC MotoGP 2027
“Sejak hari pertama, saya merasa tidak punya teman di paddock. Namun saya senang dengan kondisi ini karena saya tidak memiliki ikatan perasaan dengan siapa pun. Saya tidak peduli siapa yang coba saya salip atau dengan cara apa saya menyalipnya di trek,” tegasnya.
Merindukan Rivalitas Panas Era Rossi dan Doohan
Acosta juga menyoroti atmosfer persaingan MotoGP modern yang dinilai terlalu ‘lembut’. Menurutnya, rivalitas sengit dan tensi panas (spicy rivalry) seperti pertarungan legendaris masa lalu seharusnya menjadi standar di kelas utama.
“Jika Anda mengingat masa lalu, hampir semua hubungan antar-pembalap seperti itu. Ingat rivalitas Sete [Gibernau] dengan Valentino Rossi, atau Alex Criville dengan Mick Doohan, itu bukan hubungan yang mudah. Mungkin bumbu persaingan panas seperti itulah yang kini hilang di MotoGP,” tambah Acosta.
Acosta yang telah mengantongi kemenangan balapan Sprint perdananya tahun ini, namun masih memburu kemenangan balapan Grand Prix pertamanya di kelas premier, kini menempati peringkat ketujuh klasemen kejuaraan dunia menjelang 10 putaran pamungkas bersama KTM.





