Pengakuan menarik perihal dinamika bursa transfer Formula 1 terungkap jelang akhir pekan GP Italia, menyusul keputusan perpanjangan kontrak baru Lando Norris di McLaren.
Juara dunia bertahan tersebut membeberkan bahwa dirinya sempat didekati dan menerima tawaran dari sejumlah tim rival. Namun ia khirnya mantap mengikat komitmen jangka panjang bersama skuad yang bermarkas di Woking tersebut hingga akhir musim 2030.
Norris, yang mengunci gelar juara dunia perdananya bersama McLaren musim lalu, resmi menandatangani kontrak bernilai fantastis yang memastikan masa baktinya di tim oranye pepaya akan melampaui satu dekade penuh sejak debutnya pada 2019.
BACA JUGA: Sambut Balapan Kandang, Intip Harapan dan Efek Upgrade Mesin Ferrari Lewis Hamilton di Monza
Dalam wawancara eksklusif bersama Martin Brundle di Sky Sports F1, pembalap asal Inggris berusia 26 tahun itu secara jujur mengakui adanya godaan untuk mengambil spekulasi di tempat lain:
“Tentu saja ada peluang lain yang datang. Peluang yang positif dan kesempatan untuk bertaruh.
Namun secara pribadi, saya adalah tipe pembalap yang lebih memilih melewati satu atau dua tahun masa sulit demi proses ketimbang sekadar mencari kesuksesan instan, seperti yang saya jalani bersama McLaren beberapa tahun lalu.
Meskipun saya ingin menang setiap musim, tidak semuanya harus berpatokan bahwa besok saya harus berada di tim yang langsung memenangi balapan berikutnya.”
Faktor Kebahagiaan dan Rasa Nyaman Kalahkan Obsesi Instan
Norris, yang dibina langsung melalui program akademi pembalap muda McLaren sejak 2017, menegaskan bahwa keputusannya bertahan didasari oleh rasa kekeluargaan dan kenyamanan lingkungan kerja, bukan semata-mata kalkulasi performa jet darat:
BACA JUGA: Soroti Hasil Lewis Hamilton GP Belanda: Finis P4 di Belakang Russell, Tolak Dalih Sial Ferrari
“Sebagian besar pertimbangannya adalah: apakah saya bahagia? Saya tetap merasa bahagia bersama McLaren bahkan di masa-masa ketika kami belum mampu memenangi balapan.
Saya berada di posisi yang luar biasa dan bisa menjalani pekerjaan yang saya cintai. Jadi bagi saya, tidak semuanya melulu soal performa mutlak.
Porsi terbesarnya adalah orang-orang di sekitar saya. Fakta bahwa saya merasa seperti di rumah sendiri dan menikmati setiap momennya memiliki pengaruh yang sama kuatnya dengan tuntutan ‘saya harus berada di tim yang langsung menjadi juara dunia’.”
Peluang Pindah ke Ferrari atau Mercedes Pasca-2030
Ketika disinggung mengenai kemungkinan membela tim legendaris lain seperti Scuderia Ferrari atau Mercedes di masa depan, Norris tidak sepenuhnya menutup pintu.
Ia membandingkan perjalanan kariernya dengan jejak Lewis Hamilton yang pernah membela McLaren, Mercedes, hingga akhirnya berlabuh di Maranello:
BACA JUGA: Membedah Statistik Sprint Race Formula 1: Dari Era Awal 2021 hingga Rencana 12 Seri pada Musim 2027
“Itu bukan sesuatu yang ingin saya pikirkan untuk saat ini. Sejak kecil, Anda selalu membayangkan diri Anda berada di posisi yang berbeda.
Mimpi masa kecil saya memang selalu bersama McLaren, karena itulah saya merasa sangat beruntung berada di sini sekarang.
Namun secara manusiawi, Anda tentu penasaran ingin merasakan sisi lain, entah itu di Ferrari, Mercedes, atau tim lain. Melihat sejarah Lewis yang pindah dari McLaren ke Mercedes lalu ke Ferrari, saya rasa sangat keren mencoba pengalaman berbeda.”
Meski membuka kemungkinan tersebut, Norris menegaskan prioritas mutlaknya saat ini adalah mempersembahkan lebih banyak gelar juara bagi McLaren:
“Semua tergantung apa yang ingin Anda capai dalam karir. Apakah Anda mengejar kesuksesan mutlak setiap tahun, atau ingin merasakan pengalaman membalap untuk Ferrari atau Mercedes?
Untuk saat ini, saya tegaskan belum memikirkannya sama sekali. Tapi tanyakan lagi hal itu kepada saya di akhir tahun 2030 nanti.”





