Lewis Hamilton ikuti jejak Michael Schumacher setelah meraih kemenangan pertamanya bersama Ferrari pada Formula 1 GP Barcelona 2026. Momen bersejarah ini membuat banyak pihak melihat kesamaan perjalanan pembalap ini dengan legenda F1 Michael Schumacher, yang juga meraih kemenangan perdana Ferrari di sirkuit yang sama pada 1996.
Tiga dekade setelah Schumacher mengawali era keemasan Ferrari di Barcelona, Hamilton menorehkan kisah serupa dengan kemenangan ke-106 sepanjang kariernya. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa pembalap Inggris berusia 41 tahun tersebut masih mampu bersaing di level tertinggi Formula 1.
Hamilton tampil impresif sepanjang balapan. Berbekal strategi tiga pit stop yang agresif dan kecepatan luar biasa, ia berhasil mengalahkan duo Mercedes, George Russell dan Andrea Kimi Antonelli, sekaligus membawa Ferrari kembali ke jalur kemenangan.
BACA JUGA: Akhiri Puasa Kemenangan Ferrari, Lewis Hamilton Wujudkan Mimpi Yang Dulu Mustahil
Hamilton Ikuti Jejak Michael Schumacher di Barcelona
Barcelona memiliki makna spesial dalam sejarah Ferrari. Pada Juni 1996, Michael Schumacher mencatat kemenangan perdananya bersama Scuderia di sirkuit Catalunya, yang kemudian menjadi fondasi dominasi Ferrari selama lima musim berturut-turut.
Kini, sejarah seolah terulang. Hamilton juga meraih kemenangan pertamanya bersama Ferrari di Barcelona setelah melalui perjalanan panjang yang tidak mudah.
Jika Schumacher membutuhkan waktu empat tahun untuk membangun Ferrari menjadi tim juara, Hamilton juga menghadapi tantangan besar sejak bergabung dengan tim asal Maranello tersebut.
Dari Musim Sulit Menuju Kebangkitan Bersama Ferrari
Musim debut Hamilton bersama Ferrari pada 2025 jauh dari harapan. Juara dunia tujuh kali itu bahkan menjalani musim pertama dalam kariernya tanpa podium grand prix.
Berbagai kritik menghampirinya. Sebagian pengamat menilai usia Hamilton sudah tidak lagi ideal untuk bersaing di puncak Formula 1.
BACA JUGA: Klasemen F1 Usai Grand Prix Barcelona 2026: Hamilton Pangkas Jarak, Antonelli Masih Memimpin
Namun, Hamilton membuktikan bahwa dirinya belum habis. Pembalap asal Inggris itu mengakui sempat meragukan dirinya sendiri setelah musim sulit yang dijalani tahun lalu.
“Saya sempat berpikir mungkin benar bahwa pada usia tertentu kemampuan itu hilang. Namun saya membuktikan bahwa itu tidak benar,” ujar Hamilton.
Kebangkitan ini tidak datang secara instan. Hamilton menjalani program latihan intensif dan membangun kembali mentalitasnya demi kembali ke performa terbaik.
Strategi Ferrari dan Kecepatan Hamilton Jadi Kunci
Kemenangan di Barcelona bukan sekadar hasil keberuntungan. Hamilton tampil dominan dengan mencatat tujuh fastest lap selama 66 putaran balapan.
Pada stint kedua menggunakan ban medium, ia mampu memangkas jarak dengan George Russell secara signifikan. Kemunculan Virtual Safety Car memang membantu strategi Ferrari, tetapi Hamilton tetap menunjukkan kecepatan murni yang sulit ditandingi.
BACA JUGA: Hasil Race F1 Grand Prix Barcelona 2026: Lewis Hamilton Raih Kemenangan Perdana Bersama Ferrari
Bahkan, Mercedes mengakui bahwa Hamilton terlalu cepat untuk dikejar pada balapan tersebut.
Performa ini mengingatkan banyak pihak pada masa kejayaan Hamilton maupun Schumacher: kombinasi kecepatan, strategi sempurna, dan manajemen ban yang luar biasa.
Peluang Gelar Dunia Kedelapan Masih Terbuka
Kemenangan di GP Barcelona membuat Hamilton kini hanya tertinggal 41 poin dari pemuncak klasemen Andrea Kimi Antonelli. Dengan 15 seri tersisa, peluang merebut gelar dunia kedelapan masih terbuka.
Jika Ferrari mampu mempertahankan laju pengembangan mobil dan Mercedes terus menghadapi masalah reliabilitas, Hamilton berpotensi menjadi penantang serius dalam perebutan gelar musim ini.
“Saya pikir ini baru permulaan. Tidak ada yang mustahil, jadi kami akan melangkah satu per satu,” kata Hamilton.
Apakah Hamilton mampu mengulang kisah sukses Schumacher bersama Ferrari? Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, kemenangan di Barcelona bisa menjadi awal era baru bagi Ferrari dan sang juara dunia tujuh kali.





