Momen tak terduga terjadi pada tes pramusim di Buriram ketika Alex Rins berbagi motor dengan rekan setimnya, Fabio Quartararo. Langkah tersebut bukan karena kerusakan teknis seperti dugaan awal, melainkan keputusan strategis tim Yamaha demi mempercepat pengembangan motor baru mereka.
Rins menjalani total 54 lap sepanjang hari terakhir pengujian, 29 lap di sesi pagi dan 25 lap di sore hari. Ia mengakhiri tes di posisi ke-20 pada gabungan catatan waktu, tertinggal 1,207 detik dari posisi teratas.
Hasil itu memang belum memuaskan, tetapi cerita di baliknya jauh lebih menarik daripada sekadar angka.
Pembalap Spanyol tersebut mengakui hari terakhir terasa rumit karena ia hanya memiliki satu motor untuk digunakan. Situasi ini membatasi jumlah percobaan setelan dan simulasi panjang yang biasanya menjadi bagian penting pengujian pramusim.
Strategi Tim di Balik Pengorbanan Rins
Alih-alih mengalami kendala teknis, Rins justru secara sukarela menyerahkan motor keduanya kepada Quartararo. Ia bahkan menanggapi situasi itu dengan candaan ringan yang kemudian menjadi sorotan paddock: “sharing is caring.”
Keputusan itu ternyata sudah dibahas sehari sebelumnya. Manajemen tim meminta persetujuan Rins sebelum makan malam, dan ia langsung memahami konteksnya.
Baginya, proyek pengembangan motor jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi.
Ia menegaskan bahwa jika tim meminta, maka ia siap mendukung. Baginya, kemajuan proyek adalah prioritas utama, meskipun berarti harus mengorbankan kenyamanan sendiri selama sesi tes.
Mengandalkan satu motor jelas bukan situasi ideal bagi pembalap MotoGP. Rins menjelaskan bahwa keterbatasan ini membuatnya tidak bisa melakukan banyak lap, sehingga evaluasi data menjadi lebih terbatas.
Meski begitu, ia masih sempat menjalankan simulasi sprint race. Hasilnya menunjukkan Yamaha masih tertinggal cukup jauh dari para rival.
Ia menyebut jarak performa itu terasa nyata, meski ada sedikit titik positif karena ia mampu menjaga catatan waktu di kisaran 1 menit 30 detik.
Pada sesi akhir, ia mencoba time attack menggunakan ban baru. Waktu lap memang sedikit membaik, tetapi performa mesin tidak maksimal karena jarak tempuhnya sudah tinggi.
Ia merasakan penurunan tenaga yang cukup terasa saat memacu motor di kecepatan tinggi.
Fabio Quartararo Juga Terbatas
Menariknya, Quartararo juga hanya memiliki satu motor di hari terakhir. Ia mengungkapkan bahwa mesin motor yang tersedia sudah mencapai batas pemakaian, sehingga opsi pengujian mereka semakin terbatas.
Bagi juara dunia 2021 itu, sesi terakhir lebih difokuskan pada pengaturan setelan daripada mengejar waktu tercepat.
Ia mengakui masih mencari arah pengembangan yang tepat dan memperkirakan paruh pertama musim akan menjadi fase eksperimen untuk memahami karakter motor.
Ketika ditanya soal peluang mesin Yamaha V4 baru pada debut penuhnya di akhir pekan balapan pembuka, yakni Thai Grand Prix, Rins memilih berhati-hati. Ia menyarankan agar pertanyaan soal target performa ditujukan kepada manajemen tim.
Namun ia tidak menutup fakta bahwa pembalap mana pun tidak pernah siap berada di barisan belakang. Ia juga mengakui bahwa jika tim memprediksi awal musim akan berat, kemungkinan besar itu memang realistis.
BACA JUGA: Jorge Martin Buka-bukaan: Motor Aprilia RS-GP Nyaman, Tapi Masih Kalah Cepat dari Rival
Perbandingan Data dengan Rival
Walau menghadapi kendala, data tes menunjukkan ada sedikit perkembangan. Motor V4 baru hampir menyamai catatan lap terbaik tahun lalu dari motor Inline lama.
Dua pembalap terdepan Yamaha, yaitu Jack Miller dan Quartararo, terpaut 1,0 detik dari waktu terbaik 2026 yang dicatat pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi.
Dalam simulasi Sprint 2026, Rins dan Quartararo rata-rata kalah 0,9–1,0 detik per lap dibanding catatan terbaik milik pembalap Trackhouse Aprilia, Ai Ogura.
Selisih tersebut identik dengan jarak performa motor lama pada Sprint Thailand musim lalu, ketika Quartararo finis ketujuh dengan selisih 13 detik setelah 13 lap.
Artinya, meski konfigurasi mesin berubah, gap performa belum sepenuhnya terpangkas.
Quartararo mengingatkan bahwa simulasi Sprint motor lama sebenarnya jauh lebih cepat pada tes tahun lalu. Namun saat akhir pekan balapan, ban dari Pirelli yang dipakai di kelas Moto2 dan Moto3 membuat grip lintasan menurun.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting karena waktu simulasi tes tidak selalu mencerminkan performa saat balapan sesungguhnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini mereka masih sekitar tujuh hingga delapan persepuluh detik lebih lambat dari simulasi balapan tahun lalu, angka yang menunjukkan pekerjaan rumah besar masih menanti.
Frustrasi yang Harus Dikendalikan
Hari pertama tes bahkan sempat memperlihatkan sisi emosional Quartararo. Ia terlihat melakukan gestur kesal ke arah motornya setelah sesi yang mengecewakan.
Ia mengakui tingkat frustrasinya sempat memuncak karena ingin segera kompetitif tetapi kenyataan di lintasan berkata sebaliknya.
Kini ia berusaha menenangkan diri dan fokus pada proses. Ia sadar memaksakan performa maksimal sepanjang waktu dapat menguras mental. Untuk itu pendekatan lebih tenang salah satu strategi terbaik.
Rins memiliki cara berbeda menghadapi emosi. Ia mengaku terbiasa menganalisis rasa marah saat berkendara.
Baginya, penting memahami sumber frustrasi agar bisa kembali ke garasi dengan pikiran jernih dan siap memberi masukan konstruktif kepada tim.
BACA JUGA: Honda Butuh Revolusi Besar, Joan Mir Nilai Motor Honda RC213V Belum Kompetitif di MotoGP 2026
Kisah Alex Rins Berbagi Motor bukan sekadar cerita unik di paddock, melainkan simbol situasi Yamaha saat ini: tim besar yang sedang bekerja keras mengejar ketertinggalan. Pengorbanan individu menjadi bagian dari upaya kolektif untuk menemukan solusi teknis.
Jika tidak, awal musim kemungkinan akan menjadi fase bertahan sebelum perkembangan signifikan muncul di paruh kedua.
Satu hal yang pasti, aksi Rins di Buriram telah menunjukkan bahwa dalam dunia balap elit, kerja tim terkadang menuntut pengorbanan pribadi yang tidak terlihat di papan waktu.





