Rasa lega terpancar dari raut wajah Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) seusai menuntaskan balapan utama Pertamina Grand Prix of Indonesia. Menyikapi hasil Marc Marquez di MotoGP Mandalika 2026 GP Indonesia, juara dunia delapan kali tersebut menyebut keberhasilannya finis di posisi keenam serta membatasi kebocoran poin adalah sebuah “mimpi” yang sudah ia dambakan sejak sebelum akhir pekan dimulai.
Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok, selama ini tercatat sebagai momok paling menakutkan bagi Marquez. Sejak sirkuit kebanggaan Indonesia itu masuk kalender MotoGP pada 2022, Marquez selalu bernasib sial dan tidak pernah sekali pun mampu menyentuh garis finis pada balapan grand prix hari Ahad.
Tren buruk tersebut akhirnya resmi patah pada Ahad (11/10/2026). Tambahan 12 poin maksimal saat menjuarai balapan Sprint hari Sabtu, Marquez meninggalkan Lombok dengan defisit yang tetap sama persis seperti saat ia tiba. Ia hanya terpaut dua angka di belakang Jorge Martin (353 berbanding 355 poin).
“Di Trek Terburuk, Finis Seperti Ini Adalah Mimpi”
Berbicara di hadapan awak media di Sirkuit Mandalika, pembalap berjuluk The Baby Alien itu membeberkan kalkulasi realistisnya dalam perburuan titel musim ini.
“Sangat mudah menjelaskannya,” ujar Marquez. “Jika pada hari Kamis Anda berkata kepada saya bahwa sepanjang akhir pekan ini saya hanya akan kehilangan tiga poin dari Marco Bezzecchi dan meraih poin imbang melawan Martin, itu adalah sebuah mimpi.”
“Dan kami berhasil mencapainya, di sirkuit yang secara historis paling buruk bagi kami. Kami menjalani akhir pekan yang luar biasa dan mampu konsisten sejak awal. Benar bahwa kami sangat kepayahan di balapan utama, terutama pada paruh kedua, tetapi saya sangat puas dengan bagaimana akhir pekan ini berakhir,” imbuh rider Spanyol tersebut.
Penurunan Drastis Ban Belakang dan Taktik Main Aman di Tikungan 10
Marquez mengakui motor Ducati Desmosedici GP26 miliknya tidak memiliki kecepatan murni untuk menandingi sapu bersih empat besar pabrikan Aprilia. Penurunan drastis daya cengkeram ban belakang (massive drop) memaksanya mengambil pendekatan defensif demi mengamankan poin berharga.
“Ban belakang mengalami penurunan cengkeraman yang masif, sementara ban depan sebenarnya bekerja sempurna,” jelas Marquez. “Memang benar di titik pengereman keras Tikungan 10 saya sengaja sedikit mengalah (gave up a bit), tetapi itu murni bagian dari strategi saya.”
“Saya memilih untuk tidak mengambil risiko ekstra. Dengan 12 putaran tersisa, melihat ritme lawan, saya sadar Pedro Acosta dan Ai Ogura pasti akan menyalip saya bagaimanapun caranya, bahkan mungkin Fabio Di Giannantonio, meski akhirnya Diggia menyerah di belakang.”
“Saya tidak berani melakukan pengereman telat (late braking) karena tidak memiliki kepercayaan diri pada ban belakang. Di sesi latihan saya bisa melakukannya untuk satu putaran kilat, tetapi hari ini risikonya jauh lebih besar dibanding keuntungannya,” lanjut Marquez yang finis terpaut 10,778 detik di belakang pemenang balapan, Marco Bezzecchi.
Kedewasaan Mental demi Titel Juara Dunia
Mengomentari sandiwara taktis di pertengahan lomba, Marquez mengaku membaca situasi rivalnya. “Dengan 12 lap tersisa, saya merasa Acosta seperti bermain-main dengan kami karena dia mengalami masalah tekanan ban. Ogura juga memiliki ritme akhir lomba yang sangat luar biasa kuat.”
Marquez menegaskan bahwa kedewasaan untuk menerima ketika rival tampil lebih kencang adalah kunci utama bila ingin mengunci gelar juara dunia di pengujung musim.
“Saya sempat menekan di beberapa lap dan bisa mengimbangi ritme Martin, tetapi itu hanya bertahan sekitar sepuluh putaran seperti di balapan Sprint kemarin, bukan untuk durasi 27 lap penuh. Saya harus beradaptasi dan membalap dengan pendekatan berbeda.”
“Pembalap lain memang jauh lebih kencang dari saya hari ini. Namun terkadang Anda harus berlapang dada menerima fakta itu, dan itulah hal yang wajib saya lakukan jika saya ingin bertarung merebut gelar juara dunia sampai akhir,” tutup Marquez menatap lima putaran penutup musim 2026.





