Fenomena aneh saling memberi jalan antara Pedro Acosta dan Marc Marquez pada balapan utama Grand Prix of Indonesia menuai kecaman keras. Menyoroti insiden Pedro Acosta di MotoGP Mandalika 2026 tentang aturan tekanan ban, pembalap muda Spanyol tersebut secara terbuka meluapkan kekesalannya. Dan ia menyebut para pembalap terlihat konyol layaknya keledai di atas lintasan.
Sepanjang balapan 27 lap di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Ahad (11/10/2026), Acosta dan Marquez berulang kali bertukar posisi di tempat keempat. Aksi saling mengalah tersebut terpaksa dilakukan Acosta setelah menerima peringatan di dasbor motor bahwa tekanan ban depan miliknya berada di bawah batas minimum legal 1,8 bar.
Demi menghindari hukuman penalti waktu 16 detik jika gagal memenuhi kuota putaran dengan tekanan legal (minimal 60 persen jarak tempuh balapan), Acosta harus membuntuti motor Marquez guna menyerap udara panas (dirty air) agar temperatur dan tekanan ban depannya naik kembali.
“Kami Terlihat Seperti Keledai”: Kritik Pedas Regulasi Ban
Berbicara kepada awak media di Sirkuit Mandalika seusai balapan, Acosta tidak menutupi rasa frustrasinya terhadap dampak regulasi ban tersebut pada sportivitas dan tontonan balap.
“Maksud saya, kami terlihat seperti keledai (we looked like donkeys),” tegas Acosta dengan nada geram. “Saya kira Marquez juga mengalami masalah yang sama persis dengan saya, karena dia juga sempat membiarkan saya melewatinya.”
“Saya paham bahwa kita harus memiliki batas tekanan minimum sebelum keluar ke lintasan, tetapi Anda tidak bisa memprediksi segalanya… contohnya kejadian Jorge Martin di Sprint kemarin. Tim mungkin mengatur tekanan dengan perkiraan Marco Bezzecchi dan Marc akan berada di depan,” lanjutnya.
Menurut Acosta, penentuan tekanan ban yang sangat bergantung pada posisi pembalap lain tidak masuk akal. “Anda tidak bisa mengontrol apa yang pembalap lain lakukan. Menurut saya, aturan ini harus diubah: tentukan saja batas tekanan minimum sebelum kita start di grid, setelah itu biarkan balapan berjalan apa adanya. Anda tidak bisa berbuat apa-apa di tengah balapan.”
Drama Kehilangan Waktu dan Hilangnya Peluang Empat Besar
Acosta menjelaskan bagaimana kondisi bannya terus berfluktuasi secara ekstrem begitu ia berada di udara bersih (clean air).
“Ketika saya berada di belakang motor lain, situasinya baik-baik saja. Namun begitu saya berada di depan, bannya langsung bermasalah. Mungkin saya seharusnya bertahan lebih lama di belakang Marc, tetapi saya pikir menundanya satu lap tidak akan mengubah banyak hal,” urai pembalap bernomor #37 tersebut.
Sandiwara saling menyalip itu pada akhirnya memakan korban waktu yang sangat masif, membiarkan Jorge Martin kabur sendirian di posisi ketiga serta membuka celah bagi Ai Ogura untuk menyusul dari belakang.
“Kami kehilangan banyak sekali waktu akibat hal-hal konyol ini, dan ini merenggut peluang saya untuk finis di dalam empat besar. Saya berjuang sepanjang balapan dengan tekanan ban depan, membuang banyak waktu membiarkan Marc lewat, menyalipnya lagi, memberinya jalan lagi, lalu menyalipnya kembali.”
“Kemudian Ogura mengejar kami dan dia memang lebih kencang. Terlepas dari itu, kami menjalani balapan yang bagus, menjadi pembalap non-Aprilia terbaik di posisi kelima, jauh lebih baik dari kemarin. Kami sudah mengambil hasil maksimal yang bisa kami raih,” tutup Acosta.





