Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, di sela-sela gelaran Formula 1 GP Spanyol di Madrid. Pria asal Uni Emirat Arab tersebut secara terbuka menegaskan tekadnya untuk turun tangan demi mempertahankan sang juara dunia dua kali lewat janji kontroversial bahwa ia siap bantu Fernando Alonso di F1 agar tidak hengkang akibat performa jeblok Aston Martin Aramco.
Masa depan Alonso di kelas premier saat ini berada dalam tanda tanya besar seiring kontraknya bersama skuad Silverstone yang akan kedaluwarsa pada akhir musim 2026. Pembalap berusia 45 tahun itu sempat menyatakan secara samar bahwa kepastian kariernya belum akan diputuskan dalam waktu dekat, memicu spekulasi pensiun atau pindah ke ajang balap lain.
Berbicara dalam forum New Economy Forum di Madrid pada hari Jumat, Ben Sulayem menegaskan bahwa FIA tidak boleh membiarkan pembalap sekaliber Alonso meninggalkan F1 hanya karena persoalan mobil yang lambat:
“Tidak ada alasan bagi kami untuk membiarkan Fernando Alonso, seorang juara hebat, pergi hanya karena situasi mobil. Itu bukan cara yang tepat untuk meninggalkan panggung F1. Dia harus sukses lebih dulu, lalu bebas pergi kapan pun dia mau, bukan karena terpaksa hengkang akibat penurunan performa tim.”
Pertemuan Rahasia dengan Lawrence Stroll dan Bantuan Mesin
Ben Sulayem bahkan membeberkan bahwa dirinya telah menggelar pertemuan langsung dengan pemilik tim Aston Martin, Lawrence Stroll, demi mencari solusi mendongkrak daya saing tim asal Inggris tersebut:
“Mobil mereka memang tidak kompetitif. Saya sudah bertemu dengan sang pemilik, Lawrence Stroll, kemarin dan saya akan mengupayakan perubahan. Saya juga akan berbicara langsung dengan Fernando untuk meyakinkannya agar mengubah pikiran. Sungguh tidak bisa diterima melihat juara dunia dua kali datang ke balapan kandangnya sendiri di Spanyol dan berada di barisan paling buncit.”
Lebih mencengangkan lagi, Ben Sulayem mengklaim bahwa federasi sebelumnya pernah memberikan kelonggaran legal terkait pengembangan mesin bagi Aston Martin:
“Kami telah melakukan sesuatu secara legal pada bulan Mei lalu untuk membantu tim terkait mesin agar performanya meningkat. Saya bahkan berkata kepada Fernando: ‘Tolong beri tahu apa yang kamu inginkan dari sudut pandang pembalap agar hasil balap tim ini membaik.’ Tiba-tiba segalanya berubah, saya mendapat panggilan, dan kami menggelar rapat. Kami hadir di sini juga untuk memberi dukungan.”
Alonso Kritik Habis Monza: Bukan Lagi ‘Temple of Speed’
Pernyataan Ben Sulayem mencuat di tengah kekecewaan mendalam, sebagaimana Alonso rasakan terhadap paket mobil Aston Martin dan regulasi unit daya 2026. Seusai bencana akhir pekan di GP Italia pekan lalu, di mana kedua mobil Aston Martin gagal finis (DNF), Alonso melontarkan kritik pedas terhadap reputasi Sirkuit Monza.
Menurut Alonso, pembatasan dan karakteristik mesin regulasi baru 2026 telah melucuti identitas Monza sebagai sirkuit legendaris berkecepatan tinggi:
“Kami tiba di sini dengan slogan memasuki ‘Temple of Speed’, tapi tempat ini bukan lagi Temple of Speed. Di Barcelona mobil kami bisa menembus 350 hingga 360 km/jam, di Budapest menyentuh 355 km/jam, tetapi di Monza kami hanya mencapai kisaran 312 hingga 319 km/jam. Jadi, julukan itu sudah tidak relevan lagi.”
Sebagai gambaran perbandingan, catatan kecepatan puncak terbaik Aston Martin di Monza hanya terhenti di angka 319 km/jam. Sangat kontras dengan peraih pole position kejutan Pierre Gasly (BWT Alpine) yang membukukan kecepatan 340 km/jam.
BACA JUGA: Ferrari Alami Mimpi Buruk, Inilah Hasil Race F1 GP Italia Monza 2026: Antonelli Juara di Monza
Kronologi Bencana Ganda Aston Martin di GP Italia:
- Retirement Fernando Alonso: Menghentikan mobil di lap ke-23 setelah menghantam kerb di Tikungan 7. Hal ini menyebabkan kerusakan fatal pada komponen suspensi mobil AMR26.
- Retirement Lance Stroll: Hanya bertahan tiga lap lebih lama dari Alonso sebelum terhenti di tepi lintasan menjelang Tikungan 1. Hal ini terjadi akibat gangguan sistem hidrolis, memicu interupsi Virtual Safety Car.
- Persaingan Baris Belakang: Alonso mengakui sepanjang balapan ia hanya mampu bertarung memperebutkan posisi dengan tim pendatang baru, Cadillac F1 Team, sebelum akhirnya menyerah dari perlombaan.





