Performa mobil Scuderia Ferrari menjadi sorotan setelah pembalapnya, Charles Leclerc, mengungkap perubahan besar dalam cara menghadapi sesi kualifikasi di era mobil baru Formula 1 musim 2026.
Leclerc menyebut bahwa strategi melakukan “Crazy laps” atau putaran yang sangat agresif sudah tidak lagi efektif dengan karakter mobil generasi terbaru.
Menurutnya, konsistensi justru menjadi kunci utama untuk mendapatkan waktu lap terbaik.
Pernyataan tersebut muncul setelah sesi kualifikasi yang berlangsung pada ajang F1 Grand Prix China 2026 di Shanghai International Circuit, di mana jarak waktu antara Ferrari dan tim Mercedes-AMG Petronas F1 Team terlihat semakin kecil dibandingkan seri sebelumnya.
Performa Mobil Scuderia Ferrari dan Adaptasi Mobil Baru 2026
Dalam kualifikasi sebelumnya di Australian Grand Prix 2026, selisih waktu antara mobil tercepat Ferrari dan Mercedes mencapai sekitar 0,809 detik.
Namun di Shanghai, gap tersebut menurun cukup signifikan. Pada sprint qualifying selisihnya sekitar 0,581 detik, sementara di sesi kualifikasi utama hanya sekitar 0,351 detik.
Meski begitu, Leclerc menilai angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kekuatan sebenarnya dari Mercedes.
Ia menjelaskan bahwa salah satu rival utama Ferrari, George Russell, mengalami masalah teknis yang membuat performa tim tersebut tidak sepenuhnya optimal.
Di sisi lain, rekan setim Russell di Mercedes, Andrea Kimi Antonelli, justru berhasil meraih pole position.
Menurut Leclerc, pemahaman terhadap karakter mobil baru F1 2026 masih menjadi faktor penting yang menentukan performa tim.
Strategi “Crazy laps” Tidak Lagi Efektif
Leclerc mengakui bahwa gaya balapnya harus berubah karena karakter mobil baru yang sangat berbeda dibanding musim-musim sebelumnya.
Pada masa lalu, ia sering mengandalkan putaran ekstrem di sesi Q3 dengan mengambil risiko besar untuk mendapatkan waktu terbaik.
Namun dengan mobil F1 2026, strategi tersebut justru bisa merugikan.
Menurutnya, memaksakan mobil secara berlebihan, Crazy laps, justru dapat mengganggu sistem mesin dan manajemen energi mobil. Hal itu membuat pembalap kehilangan lebih banyak waktu daripada yang bisa mereka dapatkan.
Leclerc menegaskan bahwa pendekatan yang lebih konsisten dari Q1 hingga Q3 kini menjadi metode terbaik untuk mendapatkan hasil maksimal.
Ia juga mengakui bahwa pendekatan ini membuat sesi kualifikasi terasa kurang “dramatis” bagi pembalap.
Namun hasilnya terbukti cukup efektif karena Ferrari mampu mendekati para pembalap di posisi terdepan.
BACA JUGA: Antonelli Cetak Sejarah Pole Position Termuda di F1 Usai Kualifikasi GP China 2026
Leclerc Akui Kesulitan di Sirkuit Shanghai
Dalam kualifikasi GP China, Leclerc harus puas memulai balapan dari posisi keempat, tepat di belakang rekan setimnya di Scuderia Ferrari, yaitu Lewis Hamilton.
Meski bukan hasil ideal, Leclerc mengaku cukup puas dengan performanya karena merasa kesulitan sepanjang akhir pekan di sirkuit Shanghai.
Pembalap asal Monako tersebut mengatakan bahwa ia telah mencoba berbagai pendekatan, mulai dari perubahan setelan mobil hingga gaya mengemudi yang berbeda.
Namun tetap saja ia merasa tidak sepenuhnya nyaman dengan karakter lintasan tersebut.
Karena itu, Leclerc mengaku cukup puas dengan hasil yang didapat meskipun hanya berada di posisi keempat.
Ferrari Siap Tantang Mercedes di Balapan
Meski Mercedes terlihat lebih cepat dalam beberapa kondisi, Leclerc yakin Ferrari tetap memiliki peluang untuk bersaing di balapan utama.
Dalam sprint race sebelumnya, Ferrari mampu memberikan tekanan kepada Mercedes terutama pada fase awal balapan.
Leclerc menjelaskan bahwa mobil Ferrari cukup fleksibel dalam hal strategi penggunaan energi dan baterai.
Hal tersebut memungkinkan mereka untuk tetap bertahan dalam pertarungan dengan Mercedes.
Sebaliknya, Mercedes terkadang mengalami kesulitan dalam manajemen energi ketika terlibat duel langsung dengan rival.
Menurut Leclerc, situasi tersebut dapat menciptakan efek berantai yang membuat pembalap kehilangan performa secara bertahap.
Ia berharap skenario serupa kembali terjadi di balapan utama sehingga Ferrari dapat terus menekan Mercedes.
BACA JUGA: Verstappen Tak Bisa Berkata Apa-apa Setelah Sprint Race F1 China 2026 yang Penuh Masalah
Dengan perkembangan yang terlihat sejauh ini, persaingan antara Ferrari dan Mercedes pada musim F1 2026 diprediksi akan menjadi salah satu duel paling menarik sepanjang musim.
Jika Ferrari mampu terus meningkatkan pemahaman terhadap mobil baru mereka, bukan tidak mungkin tim asal Italia tersebut akan semakin mendekati bahkan menantang dominasi Mercedes.





